Jemari kecil ini mungkin akan merangkai kata menjadi sikap kerja yang nyata dari masing-masing pribadi kehidupan manusia. Seraya menari beralun lembut seperti menyentuh nada disetiap denting piano yang kian mendekat ke ulu hati sanubari. Disetiap syair terlukis kata menyudutkan jiwa manusia.
Aku dan bayanganku
Aku dan egoku
Aku dan pribadiku
Aku dan bintang
Elang yang menyambar, mencengkram kuat hati, menghujam asa tuk kembali rapuh, mudur, dan mati
Gerakan langkah yang semakin senyap, seperti bintang yang tak bernanarkan cahaya
Omongan-omongan dengan nada sumbang menghasut asa, jatuh, rapuh, patah
Hati satu, raga satu, jiwa satu,
"Manah rusak, rogo sengsoro, jiwo kuciwo"
Ego yang memberikan kenistaan diri
Membelenggu asa tuk berlari, berontak, dan khianat
Bukan pedebah yang merengek dibawah ketiak ibunya
Bukan bajingan yang menjerit sakau
Dan bukan banci yang mencari suapan-suapan kecil nasi
Tapi, ini aku dan ego kita
Aku dan kau terjerembak dalam ego yang sama
Aku dan kau terhasut mimpi yang sama
Aku dan kau ya
aku dan kau
Egomu membuatku diam
Perasaan mu yang merapuhkan hidupku
Suaramu mencandui fikiranku
Tapi ego mu membuatku pergi menjauh dari mu, lari, dan menghindar.
Tak ingin ku menghujat bayanganmu
Tak sanggup ku memeluk mu
Jika hati telah patah
jika rasa kian sirna, cintaku terhalang egomu dan semua tlah berakhir
Biar lara ku telan sendiri, tak usah kau hiraukan diriku.
By. Rika Prabawati
.jpg)